Kisah Seorang Mantan Perokok

Kisah Seorang Mantan Perokok

Kisah Seorang Mantan Perokok  Rokok adalah kenikmatan dunia yang ditemukan hampir ratusan tahun yang lalu. Pada awalnya bangsa barat menghisap rokok untuk menghangat diri dari dinginnya musim. Namun di Indonesia, rokok menjadi kebutuhan pokok yang bahkan lebih penting daripada nasi atau sejenisnya. Pagi hari sarapan dengan secangkir kopi dan sebatang rokok sudah menjadi kenikmatan yang tak tertandingi. Apalagi jika cuaca yang mendukung seperti sedang hujan atau cuaca yang dingin.
Sebenarnya saya bukanlah seorang perokok berat yang menghabiskan sehari berbatang-batang, berbungkus-bungkus bahkan berslop-slop rokok. Hanya seorang bocah yang salah pergaulan. Dimana waktu itu saya masih duduk disekolah dasar, tepatnya kelas 6. Penasaran dengan rasa rokok itu seperti apa dan ingin belajar bagaimana membuat asap yang keluar menjadi bulat, dulu menurut saya itu keren.
Namun untungnya, kira-kira belum ada sampai satu bungkus, entah berapa minggu atau bulan, saya berhenti untuk merokok. Entah kenapa saya berhenti begitu saja dari menghisap rokok, mungkin karena nasihat orang tua secara terus menerus yang membuat saya berhenti. Jujur, dulu orang tua saya tak mengetahui hal ini.
Baca Juga >>> Arti Sebuah Kejujuran Dalam Hidup

Perokok Aktif di Lingkungan Sekitar

Ada cerita lucu ketika seorang anak SMP membeli rokok dimana penjaga warung menanyakan usia anak tersebut. “Usia kamu berapa? Kecil-kecil kok udah berani merokok?” Ujar penjaga warung. Dengan bangganya ia berkata, “Saya udah umur 13 tahun, udah masuk SMP”. Yaelah lu cil, umur segitu aja udah bangga. Bodohnya lagi orang tua si anak sudah mengetahui jika anaknya seorang perokok aktif. Namun mereka tak melarang sedikitpun, entah karena ayahnya juga seorang perokok atau bagaimana.
Di masa sekolah dulu, memang banyak temanku yang merokok. Teman SMP, SMA bahkan sekarang, kuliah. Tapi dari semua itu, yang paling parah adalah teman kuliah. Hampir semua orang dikelasku seorang perokok aktif. Jika dimasa bangku sekolah dulu para perokok aktif adalah kaum minoritas, disini kami para perokok pasiflah yang merasakan bagaimana rasanya menjadi kaum minoritas.
Mereka merokok pun disembarang tempat, dilorong, didepan kelas, meskipun sudah ada larangannya untuk tidak merokok diarea tersebut. dan walaupun ditegur oleh dosen untuk tidak merokok diarea itu, mereka tetap saja melakukannya seperti tak ada kapoknya. Paling parah ketika ada seorang perokok aktif yang menghisap Vape, Vapor atau sejenisnya, rokok elektronik yang mengeluarkan asap seperti sedang bakar sampah. Mungkin lebih tepatnya seperti asap fogging yang gunanya untuk mengusir nyamuk. Tapi bedanya Vape baunya lebih enak meskipun sama-sama merusak.
Pernah ketika kami nongkrong ditempat makan, seusai kami menyantap hidangan. teman-temanku mengeluarkan rokok, membakar dan menghisapnya tanpa dosa. Disana hanya saya seorang yang bukan perokok, lebih tepatnya menjadi perokok pasif. Mereka dengan nikmatnya menawarkanku beberapa batang rokok, namun kutolak. Mereka juga memaksaku untuk mengambilnya dan aku pun berkata “Sini rokoknya, biar gue jual lagi kewarung. Lu nawarin kegue kan, jadi hak gue mau dibakar atau mau gue jual lagi”. Dengan mengetahui jika saya bukan seorang perokok, mereka sedikit menghargai untuk tidak membuang asapnya mengarah kepadaku.

Perokok Aktif Dilingkungan Keluarga

Dalam keluarga, Ayahku adalah seorang perokok aktif dimana setiap hari harus merokok sekurang-kurangnya satu bungkus. Jika kurang, ia akan mengambil tanpa sepengatahuan diwarung. Kebetulan keluarga kami adalah pebisnis warung yang sudah saya ceritakan di Seorang Anak Warung.
Ia merokok sudah sedari muda dan kini diusia tuanya, Alhamdulillah, ia berhenti merokok. Dulu tubuhnya kurus kering tak berdaging, syukur kini badannya subur karena dibarengi pola makan yang terjaga. Berhentinya merokok juga tak luput dari peran ibuku yang selalu menceramahinya. Beruntung kami memiliki wanita hebat seperti dia yang menjaga kami dengan segenap jiwanya.
Dikeluargaku juga ada perokok aktif lainnya, mereka adalah mantu dari orang tuaku. Salah satu dari mereka bisa berhenti dari merokok setelah berbagai macam hal dilakukan. Tips cara berhenti merokok ialah jika ingin lepas dari rokok maka harus total, jangan setengah-setengah. Bukannya hari ini merokok, besok tidak, begitupun seterusnya. Sulit untuk berhenti jika seperti itu. Kalau bisa yakinkan diri untuk berhenti total, jangan merokok mulai hari ini. Dan ada tips tambahan, jika bibir terasa ingin menghisap sebatang rokok, tolaklah, sebaiknya sediakan permen dikantong sebagai penggantinya. Hal ini harus dilakukan selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan hingga bisa lepas dari rokok.
Walaupun begitu, dalam keluarga ini masih ada dua orang yang masih menjadi seorang perokok aktif. Setidaknya kami yang pernah merokok lebih mengerti bagaimana orang yang disekitar kita merasa dirugikan, terutama diruang publik. Meskipun menghisap rokok itu termasuk hak setiap orang, tapi mereka yang bukan perokok juga punya hak untuk menghirup udara segar. Bukannya asap sumber penyakit yang kalian bagikan. Cukup kalian saja, para perokok aktif, yang merasakan dampak buruk dari asap rokok yang menghancurkan organ dalam tubuh kalian, menghancurkan kesehataan kalian, menanam kanker ditubuh kalian. Jangan bawa-bawa kami, para perokok pasif, yang merasakan akibat dari hal yang tak kami perbuat. Hargai orang lain jika kalian ingin dihargai. Bukan berarti kami melarang kalian untuk merokok, tapi ada tempatnya dimana kalian bisa melampiaskan kewajiban kalian untuk merokok.
Baca Juga >>> Keluar Dari Zona Nyaman

Yap, segitu aja dulu artikel tentang “Kisah Seorang Mantan Perokok”. Jika kalian seorang perokok aktif mohon bisa lebih mengerti tentang hak orang lain dan lebih menghargai orang lain jika kalian sendiri tak bisa menghargai tubuh kalian. Dan bagi kalian para perokok pasif, jangan sungkan-sungkan meminta hak kalian dalam menghirup udara segar yang terbebas dari asap rokok. Jika ada kata yang kurang berkenan, tolong dimaafkan, disini saya masih belajar dalam mengolah kosa kata dan mencurahkan segala hal yang ada dibenak saya. So, see you next article...
Previous
Next Post »
Terima Kasih Atas Komentarnya