Sulitnya Mencari Pekerjaan

Sulitnya mencari pekerjaan

Sulitnya mencari pekerjaan


Kisahidup.com – Semakin beranjak dewasa, semakin besar pula tanggung jawab yang  harus dipikul. Usiaku kini telah memasuki masa-masa: malu minta duit sama orang tua, tapi kalau ga minta ya gak bisa jajan dalam arti harus bisa mencari uang sendiri. Setelah beranjak dewasa, kebutuhan hidupku mulai meningkat. Waktu SD, jajan dua ribu rupiah perhari sangat lah besar. Bisa jajan apa aja sampe kenyang. Jaman SMP dan SMA, jajan sepuluh ribu perhari itu cukup banget, bahkan masih bisa ditabung. Semenjak masuk kuliah, uang pemasukan jauh lebih sedikit dibandingkan pengeluaran. Hal tersebut menyadarkanku untuk mencari uang sendiri, entah itu dari online ataupun offline, yang penting halal. Namun ternyata mencari pekerjaan tak semudah yang dibayangkan. Memang lapangan pekerjaan itu banyak, tapi sayangnya keterbatasan dari kemampuanku yang tidak memenuhi syarat akan semua lowongan pekerjaan tersebut menjadi kendalaku. Ditambah lagi aku yang belum lulus kuliah, maka dari itu kebanyakan mahasiswa mengambil pekerjaan part time.

Ini pengalaman pribadiku, bukan bermaksud menyinggung suatu instansi atau jenis pekerjaan. Murni hanya ingin berbagi pengalaman. 
Baca juga >>> Kerja atau Kuliah?


Mencari pekerjaan sebenernya susah-susah ga gampang, ya sulit. Kecuali kalau ada link atau koneksi. Sebenernya lowongan pekerjaan banyak terutama dari online seperti di aplikasi atau website. Cuma ga sesuai aja sama keahlian yang kita miliki. Aku mencoba untuk mencari lowongan yang sesuai dengan bidangku. Semua pekerjaan yang sejalur dengan perkuliahanku aku kirimi surat lamaran kerja dan CV (Curriculum Vitae). Namun tak satu pun berbuah hasil. Hari demi hari aku menunggu hingga pada saat itu aku mendapatkan whatsapp dari salah satu staff yang mengatakan bahwa aku lulus persyaratan dan dipanggil untuk melakukan wawancara. Seneng akhirnya ada juga yang manggil aku untuk wawancara setelah sekian banyak cv serta surat lamaran yang telah aku sebarkan.

Pada hari wawancara, aku telah menyiapkan semua data persyaratan yang harus dibawa. Pakaian rapi, semangat berapi-api. Ketika sampai dikawasa tempat wawancara, aku sedikit tersesat dan menanyakan jalan kepada seseorang dari tim orange yang sedang membersihkan jalan.

Aku: permisi mas, tau kantor ini ga?.
Dia: wkwkwk masnya mau interview ya? Itu mas tempatnya udah kelewat.
Aku: (*loh kok malah diketawain*) iya mas, mau ngelamar kerja disana.
Dia: saya saranin pulang aja deh mas. Masnya tau info loker ini dari internet kan?
Aku: loh kok gitu mas, emangnya kenapa? Iya saya tau dari internet.
Dia: udah banyak orang kaya mas yang nyari kerja disana. Cuma dipintain duit, kerja mah enggk. Pada abis 600rb, tapi ga dikasih kerjaan.

Pada awalnya aku merasa ragu dengan pernyataan mas ini, tapi aku pernah liat juga di tv kalau sistem kerja kaya gini banyak terjadi. Bimbang jadinya, mau pulang aja dan ga dapat apa-apa atau terusin tapi takut ketipu. Akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan wawancara tersebut dengan pemikiran jangan berikan uang sepeserpun kepada mereka. Ya karena kan pada dasarnya aku mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang, kok malah mengeluarkan uang.

Sampai lah ditempatnya yang mereka bilang kantor, aku lebih suka menyebutnya kontrakan atau kos-kosan. Kalau kalian melihatnya juga akan setuju. Tempatya berada dibelakang gedung orang lain dan ada dilantai 2, dari awal masuk aja suasana kelam sudah terasa. Entah kenapa aku merasa terintimidasi ketika baru masuk ke parkirannya. Mungkin karena tukang parkirnya orang timur, kulit hitam yang nampak cukup membuatku segan (bukan berarti semua orang timur seperti itu ya). Begitu pula dengan orang yang menyambutku masuk, ia memakai kemeja dan tugasnya hanya mengarahkan orang sepertiku untuk ke meja resepsionis. Matanya terus mengawasiku, aku bisa merasakannya. Seolah-olah ia tau apa yang aku tau. Oh iya, sebelum masuk, diparkiran aku bertemu dengan dua orang lelaki yang sudah matang. Sepertinya pengalaman bekerjanya juga sudah banyak. Mereka pun ragu untuk masuk kedalam dan berkata jika dimintain uang, mending gajadi aja.
Baca juga >>> Bisnis Online Sebagai Pekerjaan Sampingan 

Saat di meja resepsionis, aku dimintai data-data persyaratan. Berhubung aku sudah tau, bahaya jika kuberi semua data-data pribadiku. Aku hanya memberi surat lamaran serta foto 2x3 satu lembar. Tak lama menunggu, namaku dipanggil untuk melakukan wawancara. Saat masuk kedalam, aku kira tempat wawancara itu tertutup dan hanya ada HRD nya aja. Kok ini aku serasa masuk ke ruang guru ya, eits bukan ruang guru yang ada Iqbal Ramadhan. Ruangannya tak terlalu besar, terdapat beberapa meja dan beberapa HRD yang menangani pelamar sepertiku. Disana aku bertemu dengan ibu Vega, sebut saja namanya seperti itu. Wanita paruh baya yang telah memasuki usia sekitar 40 tahun keatas. Terjadi lah percapakan diantara aku dan dia.

Ibu Vega: Selamat siang mas
Aku: siang bu.
Ibu Vega: ini kita langsung aja ya, mas akan ditempatkan dibagian staff administrasi dengan gaji perbulan 3.7jt serta uang tambahan harian. Tapi ini mas, kita ga ada wawancara adanya perekrutan dengan seleksi. Jadi biaya untuk seleksinya sekitar 600rb, mas bias bayar dp 100rb terlebih dahulu.
Aku: Loh bayar ya bu?
Ibu Vega: iya, untuk ikut seleksinya mas tapi nanti kalau tidak lolos uang akan dikembalikan.
Aku: Tapi saya ga punya uang bu
Ibu Vega: yaudah 50rb dulu juga gpp
Aku: tapi saya beneran ga punya duit bu
Ibu Vega: ini syarat pendaftarannya mas, harus ada uang dp. Yaudah 20rb dulu juga gpp
Aku: seriusan bu, saya ga punya uang

Akhirnya aku merogoh uang disakuku, kebetulan sebelum ke kantor itu aku pergi ke alfamart untuk membeli kopi kalengan dan permen. Uang yang ada disakuku waktu itu cuma 11rb. Aku ga berani ngeluarin dompet karena takut ketauan jika sebenernya aku punya uang untuk membayar biaya pendaftaran tersebut.

Aku: saya adanya cuma segini bu (ngasih uang 11rb dengan pecahan 1 lembar uang 5rb-an, dan 3 lembar uang 2rb-an)
Ibu Vega: yaudah gpp segitu juga, sini uangnya.
Aku: tapi saya ga ada duit lagi bu, nanti parkir gimana bayarnya?
Ibu Vega: kamu emang ga ada duit lagi? Yaudah nih buat parkir (dikasih 2rb)
Aku: iya bu ga ada lagi. Tapi gpp nih bu saya kasih cuma 2rb buat bayar parkir?
Ibu Vega: gpp, kasih aja segitu
Aku: tapi tulisan dikertas parkirnya 5rb, gpp nih bu?

Sebelum masuk keruangan, aku dikasih tiket parkir yang bertuliskan biaya parkir sebesar 5.000 rupiah. Sepertinya ibu Vega mulai kesal denganku wkwkwkw dia udah megang uangku 9rb buat biaya pendaftaran tapi masih dimintain.

Ibu Vega: yaudah kamu gausah saya daftarin, nih uangnya saya kembalikan
Aku: oh yaudah bu gpp, mungkin lain waktu

Semua uangku dikembalikan, kertas pendaftaran yang sudah dicoret-coret olehnya diremas-remas dan dibuang ke tong sampah. Aku langsung pamit untuk keluar. Ketika berada di parkiran, aku merasa sedang diawasi. Dan benar saja, orang yang kutemui di meja resepsionis sedari tadi melihatku dari celah pintu yang terbuka lumayan lebar. Seketika aku memalingkan muka dan harap-harap cemas. Apakah aku akan dibuntuti? atau aku ga akan pulang dengan selamat. Kemudian saat di parkiran aku bertemu seorang pria berusia 40 tahun keatas yang seketika ramah menyapaku.

Dia: mas lamaran juga ya? dibagian apa?
Aku: iya mas, dibagian Entry Data tapi ga jadi. Masnya sendiri bagian apa?
Dia: saya bagian driver, ga jadi kenapa mas?
Aku: oh, ga ada duit mas buat bayar pendaftarannya
Dia: saya kurang 500rb lagi, kemungkinan minggu depan mau saya lunasin. Tapi bener ga sih ini kantor takutnya ditipu lagi.
Aku: saya saranin sih jangan dilanjutin mas, nanti dipintain terus..

Dengan suara pelan aku berkata seperti itu karena seketika tukang parkir marah-marah karena ada seorang wanita yang bersama anaknya membayar parkiran hanya 2rb rupiah. Kang parkir tersebut berkata “kalau bukan perempuan sudah beta hajar tuh orang”. Anjay serem ya, kalau aku beneran ngasih duit 2rb gimana kabarnya ya. mungkin ga bakal ada artikel ini. Akhirnya aku bias keluar dari sarang penyamun itu dengan selamat. Aku menceritakan semuanya kepada doiku, dan kita tertawa bersama menyikapi lucunya ke absurd an kisahidupku. Pengalaman yang cukup berharga untukku, ternyata sistem kerja seperti itu sudah marak tersebar dimana-mana. Aku juga melihat cabang mereka ada diberbagai kota besar, se-Jabodetabek. 

Terkadang musibah yang kita alami bisa menjadi pembelajaran untuk diri sendiri dan orang lain. Anehnya aku bukannya merasa takut atau kecewa karena tidak mendapatkan pekerjaan, tapi malah seru menertawakan kekonyolan ini. Untuk ibu vega, semoga kita ga ketemu lagi ya dan untuk kalian para pembaca, lebih berhati-hati dalam memilih pekerjaan. Lapangan pekerjaan sebenarnya banyak, tinggal kita yang mampu atau tidak dalam bersaing. Lebih baik fokus tingkatkan skill atau keahlian yang kita miliki, jangan asal mengambil pekerjaan apalagi pekerjaan yang seperti itu. Intinya kita bekerja untuk mencari uang, bukan harus ngeluarin uang. Sekian kisahidupku tentang sulitnya mencari pekerjaan, see you on next article..
Baca juga >>> Dunia Kerja Serta Pengalaman Kerja Dibaliknya

Previous
Next Post »